GARDA24.COM.Pessel— Senyum petani gambir di Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, kian hari kian memudar. Sudah lebih dari delapan bulan, harga getah gambir yang menjadi tumpuan hidup mereka terus merosot tajam.
“Dari sebelumnya Rp28 ribu per kilogram, kini hanya dihargai sekitar Rp21sampai 22 ribu, bahkan ada pedagang yang menawar lebih rendah.
“Kondisi ini membuat petani berada di persimpangan sulit antara bertahan atau menyerah.
“Apalagi yang bisa kami kerjakan untuk menghidupi keluarga,” keluh Anto (37), petani gambir asal Ampalu Kayu Aro Ampalu, dengan nada lirih.
“Harga gambir turun drastis. Jangankan untuk menabung, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak mencukupi,” katanya.
“Menurut Anto, harga tersebut sangat mencekik petani. Biaya produksi mulai dari perawatan kebun, panen, hingga pengolahan tidak lagi sebanding dengan hasil penjualan. Jika kondisi ini terus berlanjut, ribuan hektare kebun gambir masyarakat terancam ditinggalkan dan berubah menjadi lahan tak terurus.
Ia menyebut, sepanjang sejarah pengelolaan kebun gambir di daerah itu, belum pernah harga getah gambir selama ini menurun.
“Harga dua puluh lima ribu rupiah per kilogram saja sebenarnya sudah berat bagi kami. Apalagi sekarang di bawah itu,” ujarnya.
“Karena harga yang tak masuk akal, Anto mengaku enggan menjual hasil panennya. Namun desakan kebutuhan keluarga memaksanya melepas gambir dengan harga murah.
“Keluhan serupa disampaikan Erol, petani gambir dari Koto Taratak. Ia mengatakan, sebulan terakhir para pedagang pengumpul hanya berani membeli gambir dengan harga Rp21 ribu per kilogram, bahkan ada yang menawar Rp20 ribu.
“Kami juga tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, harga terus turun dan kami yang paling merasakan dampaknya,” ucap Erol.Ia mengingatkan, meski penurunan harga sudah beberapa kali terjadi dalam tiga tahun terakhir, kondisi saat ini terasa paling menyakitkan.
“Pada periode 2022 hingga 2025, harga gambir sempat stabil dan menguntungkan petani, bahkan pernah menembus Rp35 ribu per kilogram. Namun memasuki akhir 2026, harga turun ke Rp20 ribu dan sejak itu tak pernah lagi menggairahkan.
“Kini, para petani gambir hanya bisa berharap ada perhatian dan solusi nyata agar komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi mereka tidak benar-benar kehilangan masa depan.
![]()
