Kuantan Singingi – Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, pada event budaya Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, Rabu (20/8/2025), menyisakan sorotan publik. Meski hadir lebih dari tiga jam menyaksikan langsung perlombaan yang mendunia itu, Wapres tidak dipakaikan tanjak, simbol kehormatan khas Melayu. Kondisi ini membuat banyak warga menilai sang Wapres seolah kurang dihargai oleh tuan rumah.
Pacu Jalur sendiri tetap tampil meriah dan kembali menjadi magnet wisata dunia. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kuansing, Azhar, menyebutkan tradisi budaya yang telah mengakar sejak lama ini masih menjadi ikon utama yang paling diminati masyarakat, bahkan dikenal hingga mancanegara.
“Buktinya, pengunjung dari negara lain seperti Australia, Afrika, hingga Swiss ikut menyaksikan langsung Pacu Jalur di Kuansing,” ujar Azhar saat dikonfirmasi wartawan.
Menurutnya, tahun ini tercatat ada 14 duta besar, turis mancanegara, hingga sejumlah kreator konten internasional yang hadir. Kehadiran Wapres Gibran sendiri disebut menjadi momentum penting. “Alhamdulillah, Pak Wapres hadir langsung lebih dari tiga jam memantau dan mengelilingi Sungai Kuansing bersama rombongan Gubernur Riau, Kapolda Riau, serta Forkopimda,” jelas Azhar.
Namun, di balik kemeriahan itu, tanda tanya besar muncul di tengah masyarakat. Di media sosial, khususnya laman Facebook Info Kuansing, warganet ramai mempertanyakan mengapa Wapres tidak dipakaikan tanjak sebagaimana Gubernur Riau dan Bupati Kuansing. Tanjak yang dikenal sebagai simbol kebesaran dan penghormatan Melayu dianggap pantas dikenakan kepada pejabat setinggi Wakil Presiden.
Menjawab pertanyaan wartawan soal hal tersebut, Kadis Azhar justru memberi keterangan yang dianggap tidak nyambung. “Tanjak memang ciri khas Melayu, siapa saja boleh memakainya. Begitu juga orang Jawa punya blangkon, kita pun bisa memakainya tanpa ada yang protes,” ucapnya.
Pernyataan itu menimbulkan kebingungan, bahkan dinilai tidak menjawab inti persoalan. Usai menyampaikan pernyataan singkat, Kadis terlihat kikuk dan buru-buru meninggalkan lokasi wawancara, padahal masih ada sejumlah wartawan yang ingin meminta keterangan lebih lanjut.
Hingga kini, publik masih mempertanyakan alasan sebenarnya mengapa Wakil Presiden RI tidak dipakaikan tanjak. Bagi masyarakat Melayu Riau, tanjak bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol kehormatan sekaligus bentuk penghormatan tuan rumah kepada tamu agung.
![]()
