Kampar – Polemik bantuan sosial (Bansos) beras Bulog di Kelurahan Pasir Sialang, Kecamatan Bangkinang, kembali mencuat setelah seorang warga curhat di media sosial mengaku tak pernah mendapat bantuan.
Curhatan yang sempat viral itu membuat Lurah Pasir Sialang, Suryani, baru turun tangan bersama perangkatnya. Anehnya, bukannya fokus pada data bantuan, pihak kelurahan justru menyebut warga bersangkutan memiliki kelainan perilaku.
“Ada kelainan dari perilaku beliau. Dulu sudah pernah kami datangi dengan KPAI masalah penganiayaan terhadap anak istrinya,” tulis perangkat lurah dalam pesan singkat.
Namun saat diminta bukti, pihak kelurahan enggan memperlihatkan. Sementara suami dari Puji Lestari—warga yang viral di medsos—belum bisa dikonfirmasi soal tuduhan itu.
Di sisi lain, kelurahan mengaku baru mengusulkan nama Puji Lestari sebagai penerima pengganti bantuan beras Bulog untuk September 2025. Hal ini berbeda dengan pernyataan sang suami yang menyebut selama ini mereka tidak pernah mendapat bantuan apapun. Ironisnya, hanya berselang satu hari setelah curhatannya viral, pria itu mendadak meminta maaf dan mengaku ternyata istrinya sering mendapat bantuan, meski dirinya tidak tahu. Publik menilai perubahan sikap yang mendadak ini janggal dan sarat dugaan intimidasi.
Kasus ini memperlihatkan betapa kacaunya sistem pemerintahan di Kabupaten Kampar. Pendataan bantuan yang tidak transparan, tuduhan tanpa bukti kepada rakyat kecil, hingga dugaan tekanan terhadap warga, memperkuat anggapan bahwa Bupati Kampar gagal mengendalikan birokrasi di bawahnya.
Publik menilai Bupati Kampar seakan membiarkan polemik semacam ini terus berulang tanpa solusi jelas. Pemerintah daerah yang seharusnya hadir membela rakyat kecil justru terkesan lepas tangan, membuat masyarakat kian tidak percaya pada sistem pemerintahan.
Hingga berita ini diturunkan, Lurah Pasir Sialang, Suryani, belum memberikan tanggapan resmi. Sementara Bupati Kampar juga belum bersuara terkait kisruh Bansos yang menyangkut hak dasar masyarakatnya.
(Red)
![]()
