Kampar – Di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Dinas PU Cipta Karya justru menggelontorkan dana dengan nominal fantastis untuk proyek Revitalisasi Alun-Alun di Taman Beragam.
Namun, proyek yang disebut-sebut menelan biaya besar itu justru memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan masyarakat. Pasalnya, pembangunan tersebut dinilai minim manfaat dan tidak sebanding dengan kebutuhan mendesak warga Kampar.
Sejumlah pihak menilai, anggaran besar yang dikucurkan untuk taman justru lebih baik dialihkan ke pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur vital lain yang setiap hari dikeluhkan masyarakat.
Salah satu aktivis ternama di Kabupaten Kampar, Hamdani, dengan nada tegas menyampaikan kritik keras terhadap proyek ini.
“Revitalisasi taman itu sangat kurang azaz manfaatnya bagi masyarakat Kampar. Pemerintah seharusnya lebih mengutamakan pembangunan yang benar-benar dibutuhkan, seperti perbaikan jalan dan jembatan yang selama ini jadi keluhan warga,” ujar Hamdani kepada awak media, Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan kurangnya kepekaan pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pemerintah seharusnya bisa menilai mana yang lebih penting dan bermanfaat. Revitalisasi alun-alun atau membangun jalan yang setiap hari dilalui rakyat?” sindirnya tajam.
Hamdani juga menyoroti bahwa proyek-proyek seperti ini sering kali berakar dari perencanaan yang tidak matang, minim partisipasi publik, serta fokus sempit pada aspek ekonomi, tanpa memperhatikan sosial dan lingkungan.
“Banyak pembangunan yang tidak berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Akibatnya, hasilnya mubazir, bahkan terbengkalai. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin luntur,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Hamdani memastikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan aksi unjuk rasa untuk menuntut kejelasan arah kebijakan pembangunan di Kabupaten Kampar.
“Kami akan turun ke jalan. Ini bukan soal taman, tapi soal prioritas dan keberpihakan pemerintah kepada rakyatnya,” ujarnya menutup wawancara dengan nada penuh emosi.
Sementara itu, sejumlah warga yang ditemui di sekitar Bangkinang mengaku heran dengan keputusan Pemkab Kampar.
“Kalau uang sebanyak itu dipakai buat jalan antar-desa, pasti lebih terasa manfaatnya. Sekarang, taman dibaguskan, tapi jalan ke kampung kami rusak parah,” ungkap seorang warga dengan nada kecewa.
Kini, proyek revitalisasi tersebut menjadi buah bibir di tengah masyarakat Kampar. Banyak pihak menanti langkah konkret dari pemerintah daerah — apakah akan mendengar suara rakyat, atau tetap berjalan di atas kepentingan proyek semata.
✍️✍️✍️
![]()
